Logikanya, bisnis pasti memerlukan modal uang, bukan modal dengkul. Jadi, mana mungkin memulai bisnis dengan modal dengkul? Mungkin saja. Ingin tahu rahasianya? Baca terus yang berikut.
MODAL DASAR
Ternyata memulai suatu bisnis tidak harus selalu diawali dengan uang. Uang memang penting, tetapi ternyata bukan yang terpenting. Ada tiga modal dasar yang harus kita miliki jika ingin memulai suatu usaha.
Keberanian. Jika ingin memulai usaha baru, modal pertama dan terutama bukanlah uang, tetapi keberanian: keberanian berubah, keberanian untuk bermimpi, keberanian untuk bertindak, keberanian untuk gagal, dan keberanian untuk sukses. Segunung ide dan segudang uang tak ada artinya tanpa keberanian. Henry Nestle, raja bisnis dalam industri makanan bayi dan makanan kering, memulai bisnisnya dari keberanian untuk berubah. Pada masa krisis ekonomi berkepanjangan, sulit bagi rakyat di negaranya untuk mencari makanan untuk bayi. Nestle yang pada saat itu adalah seorang ahli kimia, menggunakan keahliannya untuk menemukan solusi terbaik bagi makanan bayi yang mudah dibuat dan bergizi. Setelah berjuang untuk berusaha, akhirnya Henry berhasil menemukan ramuan yang paling tepat untuk makanan bayi. Temuannya ini kemudian dikembangkan menjadi bisnis yang berhasil dan mendunia.
Keyakinan. Selain keberanian, kita juga perlu memiliki keyakinan sukses. Keyakinan ini hanya bisa kita dapatkan jika kita memiliki mimpi sukses yang jelas. Semakin jelas gambaran kita mengenai mimpi kita, semakin tinggi derajat keyakinan kita untuk sukses. Dengan gambaran yang jelas, akan lebih mudah bagi kita untuk mempersiapkan semua yang diperlukan ataupun dipersyaratkan bagi terwujudnya mimpi tersebut. Kenichi Ohmae, ”Management Guru” dari Jepang, melihat perlunya semua orang, terutama pelaku bisnis untuk memiliki gambaran kesuksesan mereka di masa depan dengan jelas, karena gambaran yang jelas ini dapat menumbuhkan keyakinan untuk mewujudkannya secara proaktif. Keyakinan juga bisa ditumbuhkan dari persiapan yang cukup. Charles Schwab seorang investor yang merupakan pionir dalam mendirikan perusahaan pialang, dengan menuliskan semua yang ingin diraihnya secara rinci. Rincian mimpi sukses ini disusun kembali berdasarkan prioritas yang ingin dicapainya, dan rencana aksi untuk mencapainya. Strategi penyusunan prioritas dan rencana aksi ini, ternyata berhasil menumbuhkan keyakinan Schwab untuk sukses. Dengan strategi ini, Schwab berhasil membangun kerajaan bisnisnya di bidang investasi, sehingga menjadi perusahaan pialang terkemuka di dunia.
Ketekunan. Membangun sebuah bisnis memang tidak mudah. Upaya ini memerlukan perjuangan yang tekun sebelum sukses dapat diwujudkan. Orang yang sukses adalah orang yang tidak menyerah sebelum sukses itu dapat diraih. Mungkin saja ia harus mengalami banyak kegagalan, tetapi ia bangkit kembali dan memiliki keuletan untuk mencoba lagi. Thomas Alva Edison, penemu bola lampu, dan pendiri perusahaan barang-barang elektronik terkemuka di dunia, General Electrics, juga berhasil berkat ketekunannya yang luar biasa. Dalam upaya menemukan bola lampu tersebut, Edison harus mengalami banyak kegagalan. Jika orang lain berhenti berusaha ketika terantuk pada kegagalan yang pertama, kedua, ketiga ataupun keempat, tidak demikian dengan Edison. Ia puluhan kali harus mengalami kegagalan, sebelum akhirnya bola lampu berhasil ditemukannya. Ketekunannya ini membuahkan hasil yang tidak hanya bisa dinikmati oleh Thomas Alva Edison sendiri, melainkan juga oleh seluruh dunia. Ray ”McDonald” Kroc juga memiliki ketekunan yang luar biasa dalam membangun bisnis makanan cepat sajinya ini. Sebelum meraih keberhasilan, berbagai profesi pernah ditekuninya, dari supir truk sampai salesman, dari posisi terendah sampai tertinggi. Semua dijalaninya dengan tekun tanpa putus asa, walaupun berbagai penolakan, kegagalan harus dijalaninya. Hasilnya? Luar biasa. Ketekunan Ray Kroc telah mempersembahkan kerajaan bisnis makanan cepat saji yang telah menggurita di seluruh dunia.
MODAL DENGKUL
”Saya tidak punya uang untuk memulai usaha. Saya belum memiliki cukup modal untuk berbisnis.” Ini yang sering dijadikan alasan oleh banyak orang yang menunda memulai usaha sendiri. Ternyata kita tidak perlu menunggu sampai modal besar datang. Usaha bisa dimulai dengan modal ”dengkul”. Caranya?
Ide. Semua usaha berawal dari sebuah ide yang kemudian dijual. Jadi, asal kita sudah punya ide bisnis yang baik, walaupun belum punya modal, kita bisa menjual ide bisnis kita tersebut untuk kemudian dijadikan uang. Bill Gates, kaisar kerajaan Microsoft, juga memulai usahanya dengan modal ide. Setelah drop out dari Harvard, Bill Gates berani bermimpi untuk memiliki bisnis yang dapat menjadi saingan IBM. Mimpi ini ia pupuk terus sehingga membuahkan keberanian untuk bertindak. Dengan keberanian ini, Bill Gates menjual ide briliannya yang menawarkan solusi bisnis di bidang teknologi informasi ke berbagai investor, sampai akhirnya ia mampu menggalang dana yang cukup untuk memulai usahanya.
Kemitraan ala Restoran Padang. Jika kita punya keterampilan tapi tidak punya uang, mengapa kita tidak bermitra dengan orang yang punya uang, tetapi tidak mempunyai keberanian dan keterampilan yang kita miliki. Strategi bisnis dengan prinsip kerja sama win-win ini ternyata sudah lama diterapkan oleh para pelaku bisnis yang menekuni usaha restoran Padang. Tim manajemen dan pemilik modal bermitra untuk menjalankan bisnis ini. Tim manajemen tidak digaji melainkan diberikan bagian keuntungan (sesuai dengan prosentasi yang disepakati bersama) yang diperoleh dari menjalankan bisnis restoran tersebut. Strategi kemitraan seperti ini tentunya bisa juga diterapkan di industri yang berbeda.
Bayar di Muka. Dasar dari sebuah bisnis adalah kepercayaan. Jika orang lain telah menaruh kepercayaan kepada kita, tentunya akan lebih mudah bagi kita untuk melakukan bisnis dengan modal dengkul. Misalnya saja, jika kita mendapat pesanan untuk mengekspor barang ke luar negeri, tetapi kita tidak punya cukup uang untuk memproduksi barang yang akan diekspor tersebut, kita bisa mencoba untuk meminta pembeli untuk membayar di muka sebagian. Uang yang kita dapatkan ini bisa kita gunakan untuk memproduksi barang yang telah dipesan. Untuk mendapatkan uang muka tersebut, kita juga bisa mencoba mengajukan aplikasi kredit ekspor ke bagian Trade Services di Bank, dengan menunjukkan sales contract yang sudah ditandatangani untuk mengekspor sejumlah barang serta dokumen lain yang diperlukan. Dengan menunjukkan kepastian pembelian barang dari mitra di luar negeri, akan lebih mudah bagi kita untuk memperoleh fasilitas kredit dari bank. Cara ini banyak dilakukan oleh pelaku bisnis yang mengekspor barang ke luar negeri ataupun yang mengimpor barang dari luar negeri.
Perantara. Tidak ada modal bukan merupakan alasan bagi kita untuk tidak memulai usaha. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memulai bisnis dengan modal dengkul. Salah satunya adalah dengan bertindak sebagai perantara. Di sini kita bertindak seperti perantara antara produsen (pemilik barang) dan konsumen (pembeli barang). Kita bisa membantu orang yang memiliki barang untuk menjualkan barangnya kepada konsumen. Lalu kita bisa menjualkan barang tersebut di tempat usaha kita (dengan cara konsinyasi). Setelah barang terjual, kita bisa mendapatkan komisi dari hasil yang terjual. Uang yang berhasil kita kumpulkan, bisa kita gunakan untuk mengembangkan bisnis kita lebih lanjut. Cara ini digunakan oleh Charles Scwab dengan bisnis pialangnya yang menjadi perantara dalam penjualan saham dan surat-surat berharga lainnya.
Jual Keahlian. Jika kita memiliki keahlian ataupun pengalaman berharga di suatu bidang yang jarang dimiliki orang lain, kita bisa mencoba menjual keahlian dan pengalaman kita tersebut untuk membantu orang lain dalam melakukan bisnis mereka. Jika kita memiliki pengalaman dan keahlian di bidang IT, kita bisa menawarkan pengalaman dan keahlian kita sebagai solusi bagi bisnis orang lain. Jika kita memiliki keahlian dalam bidang bahasa Inggris, kita bisa menawarkan jasa terjemahan dokumen, interpreting dalam seminar ataupun pertemuan bisnis, maupun pelatihan bahasa Inggris bagi pelaku bisnis. Jika kita memiliki keahlian dalam musik, kita bisa menawarkan keahlian kita untuk menghibur orang lain di berbagai acara, ataupun melatih orang lain untuk memainkan alat musik yang bisa kita mainkan. Para konsultan bisnis, konsultan pendidikan, artis, dan olahragawan profesional menggunakan strategi ini untuk meraih sukses.
Pada prinsipnya, jika kita sudah bertekad untuk memulai sebuah bisnis, uang bukanlah modal utama. Yang perlu dimiliki adalah keberanian, keyakinan, dan ketekunan. Setelah itu, untuk memulai usaha, kita tidak perlu menunggu sampai modal besar terkumpul. Kita bisa mendapatkan modal dari berbagai sumber, antara lain dengan menjual ide, menerapkan manajemen ala restoran padang, memenangkan kepercayaan mitra bisnis sehingga mereka bersedia bayar di muka untuk jasa yang kita tawarkan, menjadi perantara ataupun menjual keahlian kita sebagai solusi bagi orang lain. Jadi, siapa bilang kita tidak bisa memulai usaha dengan ”modal dengkul”?n
Copyright © Sinar Harapan 2003
Jumat, 21 Agustus 2009
Ingatlah, pelanggan adalah Nafas Kehidupan Bisnis anda !
Ingatlah, pelanggan adalah Nafas Kehidupan Bisnis anda !
M. Rizal Ismail, SE, MBA, CIFA
(Presdir. MRI Consultant/ Dosen Pasca Sarjana STIA-LAN Jkt/
Konsultan Ahli Bidang manajemen dan Kewirausahaan )
Kebutuhan utama pengusaha dari seorang pelangga jelas dan sangat pasti yaitu omzet dan Laba !. Hal itu diperoleh tentu saja dari kegiatan pelanggan yang membeli dan membayar berbgai produk yang dihasilkan atau ditawarkan pengusaha sehingga melahirkan margin keuntungan. Hal lain yang diharapkan pengusaha dari pelanggannya adalah pelanggan itu tetap konsisten untuk loyal atau pun setia membeli produknya secara terus-menerus dalam segala dinamika bisnis yang terjadi. Untuk mendapatkan kesetiaan pelanggan akan terus menjadi mitra strategis anda dalam berusahan ada beberapa hal yang perlu anda pahami selaku seorang wirausaha :
Pertama, Anda harus mengerti betul pengertian pelanggan sesungguhnya. Dalam literatur dunia wirausaha, istilah “Pelanggan” ditafsirkan menjadi dua pengertian yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, pelanggan diartikan semua pihak yang mempunyai hubungan kerja dengan bisnis kita, atau semua pihak yang terkait dalam proses produksi seperti ; supplier bahan baku, penyandang dana (pemilik perusahaan, kreditor, investor, perbankan, dll) , distributor/agen pemasar/penyalur, sebagai jembatan atau perantara agar produk tiba ditangan “end-user”, para pekerja dan orang-orang lain yang terlibat dalam proses produksi, para pesaing/competitor, dan pembeli produk/jasa (konsumen, end-user). Dalam arti sempit, pelanggan merupakan pembeli produk/jasa, tanpa memperhitungkan apakah sering, jarang atau hanya sesekali saja membeli produk/jasa kita. Ini disebut juga pelanggan riil. Pelanggan dalam pengertian ini juga disebut bagi semua orang atau pihak yang menaruh perhatian atau tertarik pada produk/jasa kita atau hanya “sekedar ingin tahu” saja. Ini disebut juga pelanggan potensial.
Lalu, Bagaimana memperlakukan pelanggan ?, Hampirsemua kita menyadari kata-kata ajaib ini “Pelanggan adalah Raja !”. Artinya dalam melayani raja bukan hanya dengan basa-basi dan sopan santun belaka, namun tutur kata dan perilaku dan kepantasan dalam pelayanan perlu pula diperhatikan. Hal lain yang mesti dipahami pengusaha adalah larangan dan tindakan negative yang tidak boleh dilakukan terhadap rajanya seperti berbohong, menipu, memeras yang dilakukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan sesaat. Raja juga tidak boleh diperlakukan secara keras dan kasar atau dicuekin dengan sikap acuh tak acuh terhadap berbagai komplain atau keluhan dalam berhubungan bisnis dengannnya. Terakhir yang sangat penting dan mendasar adalah memenuhi “Hak Sang Raja “ dalam memperoleh pelayanan prima (service excellence), memperoleh informasi yang jelas dan lengkap tentang perusahaan dan produk anda. Kiat utama dalam mengahadapi kedaultan konsumen ini sebenarnya adalah sangat sederhana yaitu terletak pada niat, itikad baik, kejujuran, dan kesungguhan anda untuk selalu ingin memberikan yang terbaik.
Mengapa Semua Manusia Harus dilayani sebagai Pelanggan?. Tentu saja, karena kita menghadapi manusia dalam setiap aspek kegiatan usaha dan semua lini produksi.. Sebagai contoh coba kita lihat peran strategis masing-masing mereka.
1.Supplier, tanpa bahan baku yang mereke berikan belum tentu kinerja dan kualitas poduk/jasa yang dihasilkan akan sebaik dan selancar saat ini.
2.Penyandang dana, tanpa bantuan/pinjaman dana mereka tentu saja berbagai rencana bisnis kita akan berantakan.
3.Distributor/Agen/Penyalur, jasa mereka sangat besar dalam membuat produk kita dikenal,diminati, dibeli dan dinikmati oleh jutaan konsumen.
4.Pekerja, Sehebat-hebatnya pendidikan dan kemampuan anda dalam berproduksi atau pengelolaan usaha, tanpa dukungan pekerja di semua lini, mustahil produk anda bisa lahir dan berada serta bertahan di pasar. Karena itu perlakukanlah mereka secara manusiawi dan sesuai fitrahnya.
5.Pesaing, pesaing juga bisa bermakna positif bagi kesinambungan usaha anda. Tanpa kinerja mereka yang mengancam kesinambungan usaha anda, anda akan kurang termotivasi untuk selalu berinovasi secara kreatif dan memberikan yang terbaiak dalam mengembangkan atamempertahankan posisi dalam percaturan pasar. Jadikanlah pesaing itu pemicu dan pemacu adrenalin anda untuk memenangi persaingan bisnis !
6.Pembeli/konsumen, karena mereka adalah raja, perlu diberikan perhatian penuh dalam
aspek pelayanan. Walaupun ia masih tergolong pembeli potensial dan belum punya minat beli atau daya beli sekalipun, namun kesan pertama menemui anda akan membangun image untuk menjadi pelanggan riil.
Bangunlah Citra ! . Citra adalah gambaran yang diberikan pihak lain atau pelanggan terhadap kesan yang diperolehnya ketika pertama mengunjungi atau bertemu dengan anda. Memang selain kita mengharapkan hasil penjualan dan keuntungan dari pelanggan kita juga sebenarnya sangat memerlukan citra positif di mata pelanggan. Jika hal ini telah diperoleh, maka biasanya pelanggan tadi secara suka rela akan melakukan promosi dari mulut ke mulut secara gratis ke pada para calon pelanggan lainnya begitu pula sebaliknya.
M. Rizal Ismail, SE, MBA, CIFA
(Presdir. MRI Consultant/ Dosen Pasca Sarjana STIA-LAN Jkt/
Konsultan Ahli Bidang manajemen dan Kewirausahaan )
Kebutuhan utama pengusaha dari seorang pelangga jelas dan sangat pasti yaitu omzet dan Laba !. Hal itu diperoleh tentu saja dari kegiatan pelanggan yang membeli dan membayar berbgai produk yang dihasilkan atau ditawarkan pengusaha sehingga melahirkan margin keuntungan. Hal lain yang diharapkan pengusaha dari pelanggannya adalah pelanggan itu tetap konsisten untuk loyal atau pun setia membeli produknya secara terus-menerus dalam segala dinamika bisnis yang terjadi. Untuk mendapatkan kesetiaan pelanggan akan terus menjadi mitra strategis anda dalam berusahan ada beberapa hal yang perlu anda pahami selaku seorang wirausaha :
Pertama, Anda harus mengerti betul pengertian pelanggan sesungguhnya. Dalam literatur dunia wirausaha, istilah “Pelanggan” ditafsirkan menjadi dua pengertian yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, pelanggan diartikan semua pihak yang mempunyai hubungan kerja dengan bisnis kita, atau semua pihak yang terkait dalam proses produksi seperti ; supplier bahan baku, penyandang dana (pemilik perusahaan, kreditor, investor, perbankan, dll) , distributor/agen pemasar/penyalur, sebagai jembatan atau perantara agar produk tiba ditangan “end-user”, para pekerja dan orang-orang lain yang terlibat dalam proses produksi, para pesaing/competitor, dan pembeli produk/jasa (konsumen, end-user). Dalam arti sempit, pelanggan merupakan pembeli produk/jasa, tanpa memperhitungkan apakah sering, jarang atau hanya sesekali saja membeli produk/jasa kita. Ini disebut juga pelanggan riil. Pelanggan dalam pengertian ini juga disebut bagi semua orang atau pihak yang menaruh perhatian atau tertarik pada produk/jasa kita atau hanya “sekedar ingin tahu” saja. Ini disebut juga pelanggan potensial.
Lalu, Bagaimana memperlakukan pelanggan ?, Hampirsemua kita menyadari kata-kata ajaib ini “Pelanggan adalah Raja !”. Artinya dalam melayani raja bukan hanya dengan basa-basi dan sopan santun belaka, namun tutur kata dan perilaku dan kepantasan dalam pelayanan perlu pula diperhatikan. Hal lain yang mesti dipahami pengusaha adalah larangan dan tindakan negative yang tidak boleh dilakukan terhadap rajanya seperti berbohong, menipu, memeras yang dilakukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan sesaat. Raja juga tidak boleh diperlakukan secara keras dan kasar atau dicuekin dengan sikap acuh tak acuh terhadap berbagai komplain atau keluhan dalam berhubungan bisnis dengannnya. Terakhir yang sangat penting dan mendasar adalah memenuhi “Hak Sang Raja “ dalam memperoleh pelayanan prima (service excellence), memperoleh informasi yang jelas dan lengkap tentang perusahaan dan produk anda. Kiat utama dalam mengahadapi kedaultan konsumen ini sebenarnya adalah sangat sederhana yaitu terletak pada niat, itikad baik, kejujuran, dan kesungguhan anda untuk selalu ingin memberikan yang terbaik.
Mengapa Semua Manusia Harus dilayani sebagai Pelanggan?. Tentu saja, karena kita menghadapi manusia dalam setiap aspek kegiatan usaha dan semua lini produksi.. Sebagai contoh coba kita lihat peran strategis masing-masing mereka.
1.Supplier, tanpa bahan baku yang mereke berikan belum tentu kinerja dan kualitas poduk/jasa yang dihasilkan akan sebaik dan selancar saat ini.
2.Penyandang dana, tanpa bantuan/pinjaman dana mereka tentu saja berbagai rencana bisnis kita akan berantakan.
3.Distributor/Agen/Penyalur, jasa mereka sangat besar dalam membuat produk kita dikenal,diminati, dibeli dan dinikmati oleh jutaan konsumen.
4.Pekerja, Sehebat-hebatnya pendidikan dan kemampuan anda dalam berproduksi atau pengelolaan usaha, tanpa dukungan pekerja di semua lini, mustahil produk anda bisa lahir dan berada serta bertahan di pasar. Karena itu perlakukanlah mereka secara manusiawi dan sesuai fitrahnya.
5.Pesaing, pesaing juga bisa bermakna positif bagi kesinambungan usaha anda. Tanpa kinerja mereka yang mengancam kesinambungan usaha anda, anda akan kurang termotivasi untuk selalu berinovasi secara kreatif dan memberikan yang terbaiak dalam mengembangkan atamempertahankan posisi dalam percaturan pasar. Jadikanlah pesaing itu pemicu dan pemacu adrenalin anda untuk memenangi persaingan bisnis !
6.Pembeli/konsumen, karena mereka adalah raja, perlu diberikan perhatian penuh dalam
aspek pelayanan. Walaupun ia masih tergolong pembeli potensial dan belum punya minat beli atau daya beli sekalipun, namun kesan pertama menemui anda akan membangun image untuk menjadi pelanggan riil.
Bangunlah Citra ! . Citra adalah gambaran yang diberikan pihak lain atau pelanggan terhadap kesan yang diperolehnya ketika pertama mengunjungi atau bertemu dengan anda. Memang selain kita mengharapkan hasil penjualan dan keuntungan dari pelanggan kita juga sebenarnya sangat memerlukan citra positif di mata pelanggan. Jika hal ini telah diperoleh, maka biasanya pelanggan tadi secara suka rela akan melakukan promosi dari mulut ke mulut secara gratis ke pada para calon pelanggan lainnya begitu pula sebaliknya.
Jumat, 06 Maret 2009
ETOS PENGUSAHA MUDA
ETOS PENGUSAHA MUDA
di Bisnis Indonesia www.bisnis.comOleh Christovita Wiloto
http://www.wiloto.com
Managing Partner Wiloto Corp.Indonesia
William Henry Gates III, nama itu mungkin agak asing bagi kita. Tapi coba sebut, Bill Gates, Anda pasti maklum. Dia lah pendiri Microsoft (bersama Paul Allen), dan kini tercatat sebagai orang paling kaya di dunia versi Majalah Forbes. Tahun lalu, majalah itu menyebut kekayaan Bill Gates mencapai US$46,5 triliun! Itu, sudah terpangkas separuh dari total asetnya pada 1999, yang mencapai US$90 triliun. Di bawah kendali Gates, Microsoft tumbuh sebagai raksasa software dunia. Mempekerjakan tak kurang dari 55.000 karyawan di 85 negara, pada semester I 2004, Microsoft mampu menuai pendapatan hampir US$37 miliar. Gates juga terus memperbarui teknologi Microsoft, agar semakin efektif dan ramah bagi setiap pengguna komputer.Lahir di Seattle, pada 28 Oktober 1955, Gates sudah terpikat pada bidang peranti lunak pada usia yang sangat muda. Dia bahkan mulai membuat program komputer saat usianya belum genap 14 tahun, dan menciptakan bahasa BASIC pada 1973, ketika masih kuliah di Harvard University.Lalu, sebut pula nama Steven Paul Jobs. Jobs juga tercatat sebagai pemain utama di industri komputer. Bersama karibnya, Steve Wozniak, Jobs dikenal sebagai pendiri Apple Computer Co. Jobs membidani kelahiran Apple dari garasi rumahnya yang sederhana, dan resmi mengibarkan bendera Apple pada 1976. Belakangan, sekitar 1986, Jobs-yang sangat dikagumi karena keahliannya meyakinkan orang dan kemampuannya sebagai salesman unggul-merambah industri animasi. Bersama Edwin Catmull, dia mendirikan Pixar, sebuah studio animasi komputer di Emeryville, California. Karena kepemimpinannya di Pixar, dan kemapanannya di Apple, Jobs dinilai banyak pengamat industri hiburan, sebagai salah satu calon pengganti Michael Eisner, pemimpin Walt Disney Company, yang mendistribusikan dan mendanai film buatan Pixar.Paradigma baru Kisah sukses Bill Gates dan Steve Jobs, barangkali telah menjadi klasik. Cerita mereka memulai usaha, kerap dijadikan contoh, betapa sebuah obsesi bisa membawa seseorang ke puncak ketenaran-baik karena kualitas karyanya maupun kekayaannya. Betapa sebuah ide orisinal yang mungkin awalnya tak diperhitungkan, ditambah dengan tekad yang membara, kelak terbukti mampu mengubah dunia.Setelah era konglomerasi di Indonesia 'rontok', sebenarnya kini saatnya bagi para generasi muda untuk berani tampil menjadi para pengusaha muda yang tangguh. Indonesia membutuhkan banyak sekali para pengusaha muda dengan etos kerja yang positif, smart dan profesional. Dan ini merupakan hal yang mutlak! Semangat dan etos seperti di ataslah yang seharusnya ditiru para pengusaha muda kita agar eksis di tengah persaingan global yang semakin ketat.Pengusaha muda kita perlu membekali diri dengan kreativitas dan tekad untuk selalu menciptakan nilai tambah dari produk atau usahanya. Sehingga, nilai tambah itu nantinya dapat memberi manfaat bagi industri yang digelutinya-menambah devisa negara, mendongkrak penerimaan pajak, menciptakan lapangan kerja baru dan memberi layanan publik secara optimal, juga mengibarkan Merah Putih di tengah dunia.Pengusaha muda seperti itu di Indonesia, sebenarnya cukup banyak. Tapi mereka lebih kerap memilih "diam dalam bekerja"-bahkan, cenderung menjauhi publikasi. Orang kemudian, baru mengenal mereka dari karya-karya dan hasil kerjanya yang spektakuler.Sayangnya, di Indonesia, pengusaha yang kerap muncul, adalah mereka yang sejatinya adalah politikus. Atau pengusaha petualang. Yang biasanya memanfaatkan statusnya sebagai pengusaha untuk meraih karier politik. Misalnya, menggalang dana masyarakat sebanyak-banyaknya, baik dari pasar modal atau pinjaman bank, lalu mencoba menelikung hukum untuk mengemplang kewajibannya. Stop praktik seperti itu! Dan mulai dengan hal-hal yang profesional dan etis!Coba kita bayangkan jika para eksekutif muda di berbagai lini korporasi di Indonesia berani mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha muda. Pasti ekonomi Indonesia akan semakin semarak dengan berbagai bisnis yang bergairah, juga dengan penemuan-penemuan yang luar biasa! Coba juga kita bayangkan jika setiap setiap mahasiswa, membuat inkubator bisnis di masa akhir kuliahnya. Pasti Apple-apple baru akan bermunculan di Indonesia. Mengapa tidak dari sekarang mengubah paradigma? Menjadi pengusaha muda yang profesional?
di Bisnis Indonesia www.bisnis.comOleh Christovita Wiloto
http://www.wiloto.com
Managing Partner Wiloto Corp.Indonesia
William Henry Gates III, nama itu mungkin agak asing bagi kita. Tapi coba sebut, Bill Gates, Anda pasti maklum. Dia lah pendiri Microsoft (bersama Paul Allen), dan kini tercatat sebagai orang paling kaya di dunia versi Majalah Forbes. Tahun lalu, majalah itu menyebut kekayaan Bill Gates mencapai US$46,5 triliun! Itu, sudah terpangkas separuh dari total asetnya pada 1999, yang mencapai US$90 triliun. Di bawah kendali Gates, Microsoft tumbuh sebagai raksasa software dunia. Mempekerjakan tak kurang dari 55.000 karyawan di 85 negara, pada semester I 2004, Microsoft mampu menuai pendapatan hampir US$37 miliar. Gates juga terus memperbarui teknologi Microsoft, agar semakin efektif dan ramah bagi setiap pengguna komputer.Lahir di Seattle, pada 28 Oktober 1955, Gates sudah terpikat pada bidang peranti lunak pada usia yang sangat muda. Dia bahkan mulai membuat program komputer saat usianya belum genap 14 tahun, dan menciptakan bahasa BASIC pada 1973, ketika masih kuliah di Harvard University.Lalu, sebut pula nama Steven Paul Jobs. Jobs juga tercatat sebagai pemain utama di industri komputer. Bersama karibnya, Steve Wozniak, Jobs dikenal sebagai pendiri Apple Computer Co. Jobs membidani kelahiran Apple dari garasi rumahnya yang sederhana, dan resmi mengibarkan bendera Apple pada 1976. Belakangan, sekitar 1986, Jobs-yang sangat dikagumi karena keahliannya meyakinkan orang dan kemampuannya sebagai salesman unggul-merambah industri animasi. Bersama Edwin Catmull, dia mendirikan Pixar, sebuah studio animasi komputer di Emeryville, California. Karena kepemimpinannya di Pixar, dan kemapanannya di Apple, Jobs dinilai banyak pengamat industri hiburan, sebagai salah satu calon pengganti Michael Eisner, pemimpin Walt Disney Company, yang mendistribusikan dan mendanai film buatan Pixar.Paradigma baru Kisah sukses Bill Gates dan Steve Jobs, barangkali telah menjadi klasik. Cerita mereka memulai usaha, kerap dijadikan contoh, betapa sebuah obsesi bisa membawa seseorang ke puncak ketenaran-baik karena kualitas karyanya maupun kekayaannya. Betapa sebuah ide orisinal yang mungkin awalnya tak diperhitungkan, ditambah dengan tekad yang membara, kelak terbukti mampu mengubah dunia.Setelah era konglomerasi di Indonesia 'rontok', sebenarnya kini saatnya bagi para generasi muda untuk berani tampil menjadi para pengusaha muda yang tangguh. Indonesia membutuhkan banyak sekali para pengusaha muda dengan etos kerja yang positif, smart dan profesional. Dan ini merupakan hal yang mutlak! Semangat dan etos seperti di ataslah yang seharusnya ditiru para pengusaha muda kita agar eksis di tengah persaingan global yang semakin ketat.Pengusaha muda kita perlu membekali diri dengan kreativitas dan tekad untuk selalu menciptakan nilai tambah dari produk atau usahanya. Sehingga, nilai tambah itu nantinya dapat memberi manfaat bagi industri yang digelutinya-menambah devisa negara, mendongkrak penerimaan pajak, menciptakan lapangan kerja baru dan memberi layanan publik secara optimal, juga mengibarkan Merah Putih di tengah dunia.Pengusaha muda seperti itu di Indonesia, sebenarnya cukup banyak. Tapi mereka lebih kerap memilih "diam dalam bekerja"-bahkan, cenderung menjauhi publikasi. Orang kemudian, baru mengenal mereka dari karya-karya dan hasil kerjanya yang spektakuler.Sayangnya, di Indonesia, pengusaha yang kerap muncul, adalah mereka yang sejatinya adalah politikus. Atau pengusaha petualang. Yang biasanya memanfaatkan statusnya sebagai pengusaha untuk meraih karier politik. Misalnya, menggalang dana masyarakat sebanyak-banyaknya, baik dari pasar modal atau pinjaman bank, lalu mencoba menelikung hukum untuk mengemplang kewajibannya. Stop praktik seperti itu! Dan mulai dengan hal-hal yang profesional dan etis!Coba kita bayangkan jika para eksekutif muda di berbagai lini korporasi di Indonesia berani mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha muda. Pasti ekonomi Indonesia akan semakin semarak dengan berbagai bisnis yang bergairah, juga dengan penemuan-penemuan yang luar biasa! Coba juga kita bayangkan jika setiap setiap mahasiswa, membuat inkubator bisnis di masa akhir kuliahnya. Pasti Apple-apple baru akan bermunculan di Indonesia. Mengapa tidak dari sekarang mengubah paradigma? Menjadi pengusaha muda yang profesional?
Langganan:
Postingan (Atom)
